Perekrutan Pegawai bagi Usaha Mikro-Kecil Baru

interview

Salah satu pertanyaan paling sering saya terima saat memberikan pelatihan kewirausahaan atau SDM bagi usaha skala mikro-kecil yang baru dimulai adalah bagaimana merekrut pegawai. Pertanyaan besar ini terbagi lagi menjadi tiga hal berikut ini:

  1. Pertama adalah sumber perekrutan pegawai.
  2. Kedua adalah cara atau metode merekrut pegawai.
  3. Ketiga adalah bagaimana melakukan tes penempatan atau perekrutan pegawai.

Mari kita bahas satu-per-satu.

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, biasanya saya akan bertanya balik kepada penanya, bagian-bagian apa saja yang menurutnya membutuhkan pegawai. Lalu pertanyaan kedua adalah berapa anggaran yang dialokasikannya untuk kebutuhan SDM itu. Kalau ia client saya dan bukan sekedar penanya dalam pelatihan atau seminar, saya akan meminta rinciannya.

Kenapa itu penting? Karena paradigma pemilik akan menentukan ke mana arah usaha tersebut di masa depan. Penentu keputusan masih sedikit, hanya pemilik bersama pasangan hidupnya. Kalau pun ada pengambil keputusan lain, biasanya masih terikat hubungan kekeluargaan seperti kakak-adik atau orangtua. Atau mungkin teman dekat atau sahabat. Bukan orang asing seperti halnya pemegang saham di perusahaan terbuka.

Struktur birokrasi perusahaan pun biasanya pendek saja. Pemilik atau orang kepercayaannya akan mengambil keputusan dalam segala hal, termasuk SDM. Nah, apabila ternyata alokasi modal untuk SDM besar, maka jawaban akan lebih luas. Akan tetapi, biasanya tidak. Karena di tahap awal, pengusaha mikro-kecil akan memfokuskan modal kapital yang dimilikinya untuk produksi atau penyediaan produk dari hulu bila tidak memproduksi sendiri. Di tingkat kedua prioritas permodalan biasanya diperuntukkan bagi sektor promosi dan penjualan. Ini mengakibatkan alokasi dana bagi SDM tidak banyak, mungkin kalau dari persentase sekitar 10-20 % saja. Prioritas pengisian pegawai pun terfokus pada bagian produksi dan penjualan. Kalau pun mau ada tambahan adalah administrasi merangkap keuangan. Nah, tinggal pemilik ingin mengambil peran yang mana dari tiga fungsi awal tersebut.

Oleh karena itu, pengeluaran untuk SDM harus diusahakan seefisien mungkin. Karena itu, menjawab pertanyaan pertama, sumber perekrutan sebaiknya dari internal dahulu. Maksud sumber internal adalah keluarga, teman sekampung atau kerabat dari pemilik usaha itu sendiri. Ada alasannya sumber internal digunakan. Pertama, mereka tidak banyak menuntut, terutama dari segi gaji dan fasilitas. Kedua, mereka lebih loyal dalam konteks tidak mudah berpindah pekerjaan. Ketiga, mereka mudah diajari hal-hal baru karena justru merasa tidak tahu apa-apa. Keempat, mereka mau diajak ‘berjuang’ bersama pemilik dan mengerti kesulitan usaha yang masih di tahap awal.

Mengenai pertanyaan kedua, cara perekrutan pegawai adalah dengan melalui referensi atau dari mulut ke mulut. Tidak perlu menggunakan iklan di media massa atau poster yang ditempel di stasiun misalnya. Cukup cari tahu siapa di lingkungan terdekat pemilik yang perlu pekerjaan. Mereka yang baru lulus sekolah menengah pertama atau atas misalnya merupakan calon pegawai potensial. Ingat, di tahap ini tidak perlu tenaga yang terdidik dan terlatih, cukup mereka yang ‘mau kerja’ saja.

Menjawab pertanyaan ketiga, terkait tes penempatan atau seleksi pegawai. Banyak yang merasa perlu melakukan tes agar pegawai bisa ditempatkan di bagian yang sesuai. Saran saya sebagai konsultan SDM justru terbalik: tidak perlu tes. Cukup sesuaikan dengan kebutuhan Anda, tempatkan calon pegawai bersangkutan di bagian yang Anda perlukan. Kalau pun ada semacam wawancara, cukup tanyakan apa yang mereka minta. Malah, bagi saya, di tahap ini pemilik perusahaan cukup bicara tegas tentang penawaran  dan kondisi yang disediakan. Misalnya besar gaji, bonus, tugas utama, jam kerja, lembur, serta kewajiban dan hak lainnya. Dan jawabannya harus tegas: terima atau tidak, take it or leave it. Paradigmanya adalah anda yang menawarkan uang, dan Anda berhak memilih siapa yang akan diberi uang itu.

Prioritas bagi usaha di tahap awal adalah bagaimana mendapatkan uang dari pembeli. Dimana dengan uang itu, sebagian besar diputar untuk modal produksi, sebagian kecil untuk biaya operasional termasuk gaji dan fasilitas pegawai, serta sisanya untuk biaya hidup pemilik sendiri.

Tanpa bermaksud mengecilkan peran SDM yang sangat vital, mencari SDM dari sumber eksternal apalagi yang terdidik dan terlatih adalah sebuah kemewahan yang tak diperlukan. Intinya adalah bagaimana perusahaan berjalan dan bertahan. Baru setelah itu dilakukan pengembangan di sektor-sektor yang dianggap perlu, termasuk SDM.

Foto: openreq.com

This entry was posted in SDM; Karir and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *