Menjadi Pengusaha Itu Tidak Mudah

Troubled-Man

Saya pernah menulis artikel di Kompasiana berjudul 7 Kebohongan Tentang Menjadi Pengusaha (salinan artikel bisa dibaca di LifeSchool-Indonesia.com). Di artikel tersebut saya membagi sedikit pengalaman tentang menjadi pengusaha. Di situs milik komunitas Tangan Di Atas wilayah Jakarta Selatan, saya juga pernah menuliskan mengenai kontroversi “pendewaan” terhadap “otak kanan”. Karena di Indonesia, beberapa motivator dengan sengaja meng-endorse kelebihan “otak kanan”. (tulisannya bisa dibaca di Bhayu.Net).

Apa inti dari kedua tulisan tersebut?

Satu saja, seperti judul di atas: “Menjadi pengusaha itu tidak mudah.”

Ini berlawanan 180 derajat dengan gembar-gembor para motivator soal entrepreneurship. Mereka seringkali mengambil contoh dari pengusaha super-sukses baik kaliber dunia maupun lokal. Misalnya saja nama-nama yang sering disebut adalah Bill Gates, Steve Jobs atau Richard Branson. Sementara dari Indonesia ada Ir. Ciputra, Chairul Tanjung atau Johny Andrean.  Di tingkat bawahnya lagi yang justru lebih sering tampil sebagai motivator ada nama-nama seperti Hendi Setiono, Elang Gumilang atau Saptuari Soegiharto.

Kesalahan utama dari para motivator entrepreneurship itu adalah memberikan ‘iming-iming’ atau kalau bahasa marketingnya: gimmick. Mereka mengedepankan ujung perjalanan saja, yaitu kesuksesan. Orientasinya hasil, bukan proses. Sehingga, para wirausahawan atau pengusaha pemula cenderung berangan-angan panjang, alih-alih mempersiapkan langkah dan nafas panjang. Karena membangun usaha bisa diibaratkan perlombaan lari marathon dan bukannya sprint 100 meter saja. Ada pengaturan strategi yang harus matang di sana.

Benar, pada titik tertentu kita tidak bisa menunggu kesempurnaan. Semua itu harus dimulai sesegera mungkin. Ini sama saja dengan prinsip memulai semua yang baru dan baik yaitu mulai saat ini juga, mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil. Dan di sinilah “otak kanan” berperan. Memberikan dorongan untuk segera bertindak, memikirkan ide-ide kreatif hingga mencari solusi di luar kelaziman.

Hanya saja, otak kiri yang menampilkan keteraturan, perhitungan hingga kemampuan untuk merinci detail sistematis harus dioptimalkan. Karena tanpanya, usaha akan berjalan tanpa arah. Terbukti, banyak sekali usahawan yang gagal karena menganggap remeh hal-hal teknis. Mereka asal mulai tanpa persiapan yang memadai. Kebanyakan karena termakan provokasi motivator kacangan.

Padahal, seperti dituliskan John Rusly dalam bukunya Jadi… Anda Ingin Menjadi Pengusaha? (2012), menjadi pengusaha itu tidak mudah. Terus terang, saya baru menemukan penjelasan logis semacam ini dalam buku tersebut. Karena biasanya, seperti saya sebutkan tadi, yang dikedepankan adalah “happy ending”-nya saja. Dan itu sebenarnya ‘menjebak’. Untuk mengetahui apa saja yang diingatkan oleh Johny Rusly, bisa membacanya di tautan ini.

Kenapa saya mengatakan menjadi pengusaha itu tidak mudah? Agar mempermudah membacanya, akan saya tuliskan dalam pointers berikut ini:

  • Menjadi pengusaha itu seperti “memulai hidup baru”. Seperti halnya menikah, menjadi pengusaha itu seperti membuka babak baru dalam kehidupan. Apalagi bila sebelumnya menjadi pegawai di perusahaan orang lain, maka akan seperti bumi dan langit bedanya. Dari segi penghasilan saja, pegawai pasti akan terima gaji tiap bulan. Sementara pengusaha justru harus mencari uang yang belum pasti didapatkan.
  • Perlu fokus dalam usaha. Pengusaha terutama yang baru perlu fokus dalam usaha. Ia harus maksimal mengembangkan usahanya sehingga kerapkali ia harus melupakan hal-hal lainnya. Seringkali hal-hal lain seperti sosialisasi dengan teman atau waktu bersantai harus dikorbankan apabila mau usahanya maju.
  • Investasi total: waktu, tenaga, pikiran, uang. Fokus membutuhkan investasi. Di sini bukan hanya uang, tapi juga waktu, tenaga dan pikiran. Menjadi pengusaha itu melelahkan karena tidak terbatasi jam kerja, dan tidak pasti hasil yang didapat. Ia harus memutar otak bagaimana mendapatkan uang. Dan tidak sekedar mendapatkan saja, tapi juga memutarnya agar bisa menjaga kelangsungan hidup usahanya (sustainable).
  • Modal Kuat. Pengusaha harus punya modal kuat. Saya tidak percaya kalau ada yang bilang bisa memulai usaha tanpa modal. Kalau memulai bisnis mungkin bisa. Tapi seringkali orang menihilkan modal selain uang. Contoh sederhana, saya membaca ada orang menganggap bisa memulai usaha “tanpa modal” dengan membuat situs online shop yang memuat foto-foto barang orang lain. Ada beberapa leap di situ, keahlian membuat situs adalah modal intelektual, karena kalau kita tidak punya, berarti harus menggunakan jasa ahli dan membayar dengan uang. Lalu saat memfoto barang orang lain, itu memfotonya pakai kamera siapa? Meminjam pun berarti ada modal, walau pinjaman. Jadi, pengusaha itu modalnya harus kuat. Ya modal uang, modal pemasaran, modal keahlian, modal peralatan, atau modal jaringan kerja.
  • Ulet, tangguh, konsisten. Kalau modal sudah punya, ada modal lagi yang tak kalah pentingnya yaitu modal mental. Di sini perlu keuletan, ketangguhan dan konsisten. Ulet karena tidak ada ceritanya langsung sukses, kecuali Anda sudah punya kemampuan lain sebelumnya. Contoh paling mudah adalah pegawai yang membuka usaha sebagai supplier perusahaan tempatnya bekerja dulu. Atau Anda tinggal meneruskan usaha keluarga (family business) dimana dasar-dasarnya telah dimulai orang lain. Tangguh karena menjadi pengusaha itu multi-aspek, sehingga tak boleh berhenti belajar. Dan konsisten di sini harus setia terus-menerus tanpa henti membesarkan usaha Anda.
  • Kesabaran. Sabar bukan berarti duduk diam dan menunggu. Melainkan justru berlega hati apabila sesuatu berjalan di luar rencana. Misalnya Anda sudah menjanjikan pengantaran barang kepada client, tapi saat pengantaran terjadi kemacetan sehingga terlambat. Sudah pasti ada resiko di-complaint oleh customer. Anda harus sabar menghadapi hal itu.
  • Multi-aspek. Seperti disebutkan di atas, menjadi pengusaha itu harus mengetahui multi-aspek dalam bisnisnya, walau bisa jadi cukup di permukaan atau secara general saja. Karena kalau tidak, kita malah bisa dibohongi oleh pegawai sendiri.
  • Jeli mengambil peluang. Inilah yang kerapkali dilupakan. Peluang sebenarnya ada di mana-mana. Tinggal bagaimana menyikapinya. Seorang pengusaha mampu melihat peluang justru di saat orang lain mengabaikannya.
  • Hemat & Bersahaja. Pengusaha terutama pemula harus cermat dalam pengeluaran. Ia harus mengedepankan penghasilan, bukan penampilan. Tidak perlu bergaya hidup sukses, bahkan andaikatapun sudah sukses. Tetaplah bersahaja dan hemat karena itulah pangkal kesuksesan sesungguhnya.
  • Mengembangkan Pegawai. Pengusaha dibantu oleh sekumpulan orang yang menggantungkan hidup kepadanya. Ia menggantikan peran orangtua untuk memberi makan ‘anak orang’. Karena itu, ia harus mengembangkan pegawainya agar kesejahteraan mereka juga meningkat.
  • Membuat Sistem. Pengusaha bukanlah self-employed. Ia tidak bekerja sendiri. Untuk itu, ada sistem yang harus dibuat. Sistem ini pada akhirnya akan menopang perusahaan dan otomatis berjalan sendiri bahkan andaikata pun sang pengusaha selaku pemilik (owner) sedang tidak di tempat. Sistem inilah faktor utama yang membedakan pengusaha dengan pebisnis.
  • Inovatif & Kreatif. Pengusaha harus terus mencari inovasi dan terobosan baru dengan cara yang kreatif. Bahkan andaikata pun sudah sukses dan menjadi pemimpin pasar (market leader), harus terus waspada agar posisi tersebut tidak diambil oleh competitor.

Kalau Anda merasa mampu mengatasi itu semua, maka sudah saatnya Anda memikirkan untuk menjadi pengusaha. Karena kemuliaan menjadi pengusaha justru ia memberi nafkah penghidupan pada orang-orang yang menjadi pegawainya, sekaligus melayani masyarakat dengan produk yang disediakannya. Kalau Anda siap, tinggal diwujudkan dalam tindakan nyata. Go to action!

Foto ilustrasi: carriegreenecoaching.com

 

This entry was posted in Bisnis & Kewirausahaan; Pemasaran & Promosi; Pelayanan Pelanggan and tagged , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Menjadi Pengusaha Itu Tidak Mudah

  1. Wah,ulasan yang dahsyat dan masuk akal dalam hitungan detik hehehe….!

    Makasih Mas Bhayu..

  2. wita anggraini says:

    Wahh jadi kebuka ya pikiran setelah membaca ulasan mad bhayu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *