Menamai Usaha: Sampai Sejauh Mana?

how_to_brainstorm_a_great_business_name

Dalam blog harian saya http://lifeschool.wordpress.com, artikel yang paling banyak dibaca adalah soal nama usaha. Rupanya, begitu banyak pembaca yang kebingungan memberikan nama. Kenapa? Saya menduga ini karena saat ini virus kewirausahaan (entrepreneurship) begitu marak. Sehingga, banyak orang ingin membuka usaha dan kebingungan memberikan nama.

Memberikan nama memang murni merupakan hak eksklusif manusia. Tak ada kucing yang memberi nama dirinya sendiri. Bahkan kucing tak tahu kalau dirinya diberikan nama jenis hewan “kucing”. Adam sebagai manusia pertama konon diberikan hak oleh Tuhan untuk memberikan nama. Dan itu terus berlanjut hingga kini. Manusia  yang jadi orangtua minimal menamai anaknya sendiri. Sementara para penemu bisa menamai temuannya. Demikian pula pemerintah bisa menamai aneka hal seperti jalan dan aneka obyek geografi terkait topografi. Para pemilik properti bisa menamai gedungnya. Nah, para pengusaha jelas punya hak menamai usahanya.

Seperti halnya teori-teori dasar mengenai tanda dan merek, ada banyak tip dan trik pemberian nama usaha. Namun, sebelum membicarakan hal ini, mari kita klasifikasikan dulu pengertian “nama usaha” itu bisa terdiri dari apa saja.

  1. Nama Usaha
  2. Nama Tempat Usaha. Ini berarti tempatnya yang diberi nama. Terutama ini bagi pedagang retail atau eceran.
  3. Nama Perusahaan
  4. Nama Produk
  5. Nama Proses Usaha
  6. Nama Domain Usaha di Internet
  7. Merek

Satu per satu saya akan coba uraikan. Walau mungkin masih kurang mendetail, setidaknya bisa untuk gambaran bagi pemula.

Jenis-jenis nama usaha

Nama usaha bisa dibilang adalah terma umum. Bila Anda membuka usaha, maka bisa mulai dinamai. Tidak masalah apa status Anda saat ini. Apakah pengusaha, pebisnis, atau pedagang (bedanya bisa dibaca di kumpulan Twitter @BhayuMH di sini), semua berhak memberi nama usahanya masing-masing.

Lebih spesifik lagi apabila Anda memiliki tempat usaha. Ini bisa berupa toko atau warung atau restoran. Intinya ada tempat secara fisik. Hal ini diperlukan karena biasanya perlu perizinan. Maka nama dicantumkan sebagai identitas, apalagi kalau tempatnya menyewa. Untuk tempat usaha, sebenarnya nama terbaik adalah yang terkait dengan produk yang Anda jual. Menamai tempat usaha penjualan HP dan aksesorisnya dengan “Lezat Cell” akan membuat customer menjadi misleading. Inti dari nama untuk tempat usaha adalah untuk membuat prospek atau calon konsumen yang lewat di depan toko segera menyadari apa yang Anda jual.

Apabila Anda memerlukan badan hukum baik berbentuk CV atau pun PT, maka nama perusahaan sebaiknya menunjukkan harapan. Kata-kata “jaya”, “makmur”, “sukses” atau semacamnya bagus bila disematkan di sana. Unsur nama lain bisa nama pendiri, nama daerah asal, atau nama kesukaan lain. Karena kita di Indonesia, biasanya notaris akan menyarankan nama dalam bahasa Indonesia. Karena kalau menggunakan bahasa asing, bisa jadi sudah dipakai di negara asalnya. Tidak perlu risau pada penilaian konsumen karena nama perusahaan jarang dimunculkan ke publik.

Nah, kalau untuk nama produk justru sebaliknya. Anda perlu berpikir masak-masak, kalau perlu minta nasehat konsultan merek. Kenapa? Karena inilah yang akan Anda jual kepada konsumen. Publik akan mengingat dan mencarinya. Inilah yang membuat produk Anda mahal. Produk bisa berupa barang atau jasa, dan di sinilah kelak nama produk akan dikembangkan menjadi merek apabila Anda serius.

Kalau untuk nama proses usaha, biasanya ini terkait dengan satu jenis hak kekayaan intelektual yang bernama desain industri atau terkadang paten. Kalau nama-nama lain termasuk merek adalah ranah hak cipta. Misalnya Anda punya resep rahasia membuat suatu masakan, maka proses usaha ini harus diberi nama dan didaftarkan secara hukum. Hal ini agar tidak ada yang ‘mencuri’-nya termasuk pegawai Anda sendiri. Kalau mereka berani mengambil atau menirunya, maka bisa dituntut secara hukum.

Sedangkan kalau nama domain usaha di internet, terutama di tataran TLD (Top Level Domain), Anda musti berkonsultasi dengan ahli SEO (Search Engine Optimization). Karena mesin pencari (search engine) seperti Google, Yahoo! atau Bing! Memiliki algoritma pemrograman tersendiri. Prospek atau calon buyer datang melalui mesin pencari. Karena itu, nama yang “bagus” tidak penting, yang lebih penting adalah nama domain yang mudah di-search.

Terakhir dan tertinggi adalah merek. Ini jelas paling perlu dipikirkan dan dirumuskan lebih baik daripada nama-nama lainnya. Karena bila Anda memutuskan memiliki merek, maka harus siap mengembangkannya. Merek tidak berhenti di nama dan logo saja, tapi lebih jauh akan perlu dukungan semua lini dalam perusahaan termasuk pemasaran, distribusi, promosi, penyimpanan, riset dan pengembangan serta yang paling penting adalah produksi. Tujuan akhir merek bukan sekedar ‘gaya-gaya-an’, tapi bertarung di pasar bebas untuk menjadi pilihan pertama konsumen. Menjadi top brand awareness yang pada akhirnya akan menjadi penguasa pasar atau market leader.

Tentukan Kebutuhan Anda

Menamai usaha, tentu gampang-gampang susah. Dari penjelasan panjang di atas, sebenarnya sudah jelas akan sejauh mana Anda memerlukan penamaan usaha. Apabila memerlukan penjelasan lebih praktis, silahkan membaca tulisan saya “Tips dan Trik Memberi Nama Usaha” (untuk membaca klik judulnya).

Merek merupakan “level tertinggi” dari penamaan usaha, dimana di dalamnya terdapat kesadaran dari pengusaha untuk mengembangkan usahanya lebih jauh. Di sini tampak jelas keseriusan pengusaha untuk memenangkan kompetisi di pasar dari kompetitor. Merek saya sebut tertinggi karena di dalamnya ada berbagai unsur terlibat, selain nama itu sendiri. Apabila sudah memiliki merek, maka harus dilindungi secara hukum hak ciptanya. Demikian pula merek akan memiliki berbagai unsur pendukung termasuk bagaimana memasarkannya dengan 7 P Marketing Mix.

Kalau untuk menamai toko atau tempat usaha, saya pikir tidak sulit. Gunakan nama Anda, nama orang kesayangan, atau kata yang berhubungan dengan usaha Anda. Bila berdagang HP misalnya, banyak kata terkait seperti “celluler”, “techno”, “gadget”, “smart”, dan sebagainya. Search saja di mesin pencari.

Di tahap awal, saya rasa merek belum diperlukan. Kecuali memang kita berniat kuat –dan ada modal- untuk menjadikannya sebagai merek yang kuat. Dan ini tidak semudah mencari nama saja lho, karena merek akan memerlukan banyak unsur pendukung lain.

Saran saya, daripada sibuk mencari “nama hoki” untuk usaha Anda yang baru mulai, lebih baik fokus pada penjualan (sales) dan promosi (promotion). Perkuat produk Anda, perbaiki layanan Anda, tingkatkan cashflow­-nya, baru kemudian kalau sudah kuat, bisa memikirkan merek.

Foto: entrepreneur.com

This entry was posted in Bisnis & Kewirausahaan; Pemasaran & Promosi; Pelayanan Pelanggan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Menamai Usaha: Sampai Sejauh Mana?

  1. Pingback: Memilih Nama Usaha | LifeSchool by Bhayu M.H.

  2. kartika says:

    Jadi kalau semisal usaha yg kita jalankan itu ternyata nama usahanya sama dengan nama sebuah PT yg sudah besar akan jadi masalah gak kedepannya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *