Manfaat Mengenali Kepribadian Manusia dalam Keseharian

personality

Dalam hidup, seringkali kita berhadapan dengan aneka jenis manusia. Tidak hanya dari suku bangsa atau ras, tapi juga agama, latar belakang, pendidikan, pekerjaan, dan status sosial. Selain ras atau suku bangsa, semua hal lain bisa berubah. Orang bisa berganti agama dan pendidikan, tapi tak bisa mengganti suku bangsa atau ras termasuk atributnya. Memang, warna kulit atau wajah bisa dioperasi plastik, tapi sebenarnya diri asli seseorang tetap sama. Ada satu hal lagi yang sulit sekali berubah, namanya kepribadian. Psikologi mengenal ini sebagai hal mendasar yang ada pada diri setiap manusia.

Kepribadian pertama kali dirumuskan oleh Hippocrates, yang dikenal sebagai “bapak kedokteran”. Memang, psikologi modern baru muncul di akhir abad ke-19, sementara sebelumnya ia merupakan cabang dari kedokteran. Karena itu ahli ilmu jiwa ada dua: psikiater yang merupakan dokter spesialis kejiwaan dan psikolog yang mandiri, lulusan fakultas psikologi. Bedanya, psikiater mengedepankan pendekatan kedokteran dimana ia bisa meresepkan obat-obatan kimiawi. Sementara psikolog mengedepankan pendekatan terapi psikologis secara persuasif.

Dalam ranah psikologi, teori kepribadian (personality) paling utama ada dua: DISC (serupa dengan CSPM-nya Hippocrates) dan MBTI. Saya akan terangkan sepintas dalam artikel ini.

DISC pertama kali diajukan sebagai teori oleh William Moulton Marston, Ph.D. pada 1928. Ini adalah teori kepribadian yang membagi manusia ke dalam empat golongan. D adalah Dominant, I adalah Influence, S adalah Steadiness, dan C adalah Compliance. Ini setara dengan Choleric, Sanguine, Phlegmatic dan Melancholic, sebuah rumusan yang dinisbahkan pada Hippocrates. Di Indonesia, kita mengenal tipe kepribadian CSPM ini dari buku karya Florence Littauer yang berjudul Personality Plus.

Sementara MBTI adalah singkatan dari Myers-Briggs Type Indicator. Dua huruf pertama adalah nama penemunya,  Isabel Myers dan Katharine Briggs yang mempublikasikannya pertama kali pada 1948. Dari empat dimensi preferensi kepribadian manusia, MBTI kemudian mengklasifikasikannya menjadi 16 tipe lagi. Secara garis besar, ada empat dimensi yang masing-masing menampilkan dua preferensi kepribadian secara berpasangan.  Pertama adalah bagaimana seseorang memusatkan perhatian atau mendapatkan energi terbagi menjadi Extrovert dan Introvert. Kedua adalah bagaimana seseorang menerima informasi dari luar terbagi menjadi Sensing dan Intuition. Ketiga bagaimana menarik kesimpulan dan keputusan terbagi menjadi Thinking dan Feeling. Keempat adalah bagaimana pola hidup seseorang terbagi menjadi Judging dan Perceiving.

Untuk kedua tipe ini, yaitu DISC/CSPM dan MBTI, saya akan ulas dalam tulisan tersendiri karena akan cukup panjang bahasannya. Dalam tulisan ini, saya akan mengulas mengenai manfaatnya dalam keseharian.

Manfaat pertama adalah justru mengenali diri sendiri dahulu. Karena justru dengan mengetahui pola kepribadian kita sendiri, akan memudahkan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kedua, mengenali pola orang lain akan membuat kita memahami lebih baik cara bersosialisasi. Kerap kali kesalahpahaman apalagi terkait faktor emosional terjadi karena ada benturan kepribadian.

Saya ambil contoh konkret. Seorang berkepribadian dominant atau choleric cenderung memaksakan kehendak karena merasa dirinya harus dipatuhi. Ia ingin segala sesuatu dikerjakan dengan caranya dan dalam waktu sesingkat mungkin. Sementara di kutub yang berlawanan, ada kepribadian steadiness atau phlegmatic yang memandang dunia dengan santai. Mereka ini “alon-alon asal kelakon”, prinsipnya “Belanda masih jauh, buat apa buru-buru”. Maka, saat menghadapi pekerjaan dengan dateline ketat, biasanya kedua tipe kepribadian ini akan rentan konflik.

Dalam pekerjaan, sangat penting mengetahui tipe kepribadian ini. Karena tentu bekerja adalah agar tujuan bersama dalam perusahaan tercapai. Diperlukan orang-orang yang mampu bekerjasama dalam tim. Maka, dalam tes awal pekerjaan sudah lazim diadakan tes psikologi (psikotes) untuk mendapatkan potret kepribadian dari pelamar. Hasilnya adalah untuk memetakan (mapping) orang yang tepat di tempat yang tepat (the right man on the right place).

Dengan mengetahui tipe kepribadian kita sendiri ditambah kemampuan menduga kepribadian orang lain, kita akan lebih mudah meraih sukses. Terutama sekali dalam hal membina hubungan dengan orang lain dimana kita sebagai makhluk sosial tentu tak bisa lepas dari interaksi dengan sesama.

Ilustrasi: spnursery.com

This entry was posted in Pengembangan Diri; Psikologi Terapan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Manfaat Mengenali Kepribadian Manusia dalam Keseharian

  1. Boy says:

    Infonya bagus, sayang terasa singkat. Ingin mempelajari lebih jauh tentang tipe kepribadian ini dan bagaimana menjadikannya bekal agar bisa sukses 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *