Knowledge Is Power

Knowledge is power-Superman

Kita seringkali mendengar adagium yang jadi judul di atas: Pengetahuan adalah Kekuatan. Frase ini berasal dari bahasa Latin: “Scientia Potentia Est” (atau bisa juga dilafalkan “Scientia Est Potentia” atau “Scientia Potestas Est”. Ungkapan ini dinisbahkan kepada Sir Francis Bacon, yang menggunakan ungkapan “Ipsa Scientia Potestas Est” yang arti harfiahnya “Pengetahuan itu sendiri adalah Kekuatan”. Kalimat ini muncul dalam bukunya Meditationes Sacrae yang terbit tahun 1597. Di kemudian hari, mantan sekertaris Bacon yang juga menjadi filsuf¬† yaitu Thomas Hobbes menuliskan frase “Scientia Potentia Est” dalam karyanya De Homine yang terbit tahun 1658.

Apa maksud kedua filsuf itu mengungkapkan sebuah frase yang diamini kebenarannya hingga kini itu? Karena di masa itu dunia barat sedang berada di masa yang disebut “abad kegelapan”. Secara netral, abad pertengahan yaitu antara abad 12 hingga 17 memang disebut begitu karena manusia mengesampingkan akal-budi. Gereja sebagai institusi agamawi mendominasi berbagai struktur dan aspek di masyarakat. Tidak ada tempat bagi ilmu pengetahuan karena segala sesuatunya ditafsirkan dan diukur dengan sudut pandang agama oleh para pemuka agama dengan merujuk kepada Bible.

Namun, terbukti kemudian para ilmuwan dan filsuf yang bekerja keras mencari kebenaran hakiki justru menemukan secara metodis fakta yang tidak diketahui sebelumnya. Mereka menggunakan obyektifitas ilmu pengetahuan untuk menjabarkan berbagai hal. Jadi alih-alih percaya pada kekuatan supranatural, berbagai hal di alam ternyata bisa dijelaskan secara ilmiah.

Kita di masa kini berhutang budi pada keberanian ilmuwan barat untuk mengungkapkan kebenaran. Karena tanpanya, niscaya dunia akan tetap dalam kegelapan.  Dengan begitu, sejarah mencatat terjadinya rentetan yang dimulai dengan Renaissance, Enlightenment hingga Revolusi Industri. Bila saja dunia barat masih percaya pada kekuatan gereja alih-alih ilmu-pengetahuan, niscaya mereka akan tetap dalam zaman kegelapan.

Apa yang kurang berimbang saat mengulas sejarah dunia ini adalah sejarawan barat seringkali tidak mau mengakui bahwa saat Eropa berada di “dark age”, dunia Islam -yang mereka istilahkan oksidental atau dunia timur- sedang berada dalam “golden age”. Kekhalifahan Islami silih-berganti menguasai dunia. Sayangnya, para penguasa kerajaan-kerajaan Islam justru melupakan pentingnya “ilmu pengetahuan”. Padahal, saat itu banyak ilmuwan yang justru belajar dari dunia Islam, termasuk menerjemahkan aneka kitab ilmu pengetahuan ke dalam bahasa Latin dan bahasa-bahasa Eropa lainnya.

Di masa modern ini, kita tetap memaknai ilmu-pengetahuan sebagai kekuatan. Hanya saja pemaknaannya lebih luas. Bukan lagi sekedar ilmu-pengetahuan formal dan utama seperti matematika, fisika, biologi atau humaniora saja, tapi juga segala hal yang bersifat ketrampilan dan pengalaman. Karena itu ada istilah “school smart” dan “street smart”.

Ilustrasi: freepostermaker.com

 

This entry was posted in Knowledge Management; Learning Intelligence and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *