Inovasi & Keberlangsungan Hidup Organisasi

Inovasi adalah jantung sebuah perusahaan. Apalagi saat ini kebanyakan perusahaan papan atas dunia adalah perusahaan berbasis pengetahuan (Knowledge Base Enterprise = KBE). Untuk selalu mengelaborasi inovasi, maka diperlukan pengetahuan di dalam organisasi. Tidak hanya itu, harus terjadi semacam aliran berupa pertukaran pengetahuan dan pengalaman antar sumber daya manusianya. Inilah yang diistilahkan Nonaka (1991) dengan Knowledge Management. Dengan KM, maka perusahaan akan selalu “baru”, “hidup” dan “berkembang”. Tidak ada kemandegan atau stagnasi dalam hal inovasi.

Banyak yang salah mengira, inovasi hanya diperlukan oleh perusahaan yang berbasis teknologi, teknologi informasi atau high-tech saja. Memang, contoh di dunia nyata yang dipahami masyarakat awam mudah dilihat. Perusahaan produsen gadget misalnya, begitu mudahnya terlindas trend inovasi dari perusahaan lain. Satu dekade lalu, Hand Phone atau Cellular Phone sempat terlindas oleh Personal Digital Assistant. Tapi kini, muncul teknologi baru seperti Smart Phone dan Tablet. Bahkan kita melihat pergeseran perusahaan pemimpin pasar. Dulu di awal mula perangkat telekomunikasi bergerak ada Motorolla, lalu Nokia, Ericsson yang kemudian mengakuisisi Sony menjadi Sony-Ericsson, O2, BlackBerry, dan kini Samsung. Jangan dilupakan pula produsen yang bermain di pasar yang agak berbeda: Apple.

Juga di dunia teknologi informasi kita melihat pelopor komputer meja (desktop computer) IBM kini tak terdengar lagi gaungnya. Ia malah berganti merek dagang menjadi Lennovo. Padahal, saya ingat sewaktu SD –SMP, komputer AT 286 hingga 486 selalu dilabeli “IBM compatible”. Artinya kira-kira: “mirip-mirip deh sama IBM”. Itu berarti IBM adalah nomor satu dan jadi standar, sementara merek lain cuma KW.

Padahal, keberlangsungan hidup organisasi lain pun sangat tergantung inovasi. Baik itu organisasi dalam bentuk perusahaan komersial atau pun lembaga pemerintah, maupun bentuk organisasi lain. Di skala perusahaan, kita melihat ada gejala trend pengalihdayaan hal-hal yang dipandang tidak perlu dipanggul sendiri oleh perusahaan. Terutama sekali di aspek sumber daya manusia. Maka, kini kita melihat ada fenomena “long distance worker”. Pekerja di India dan China yang paling banyak diminati oleh perusahaan asal Eropa dan Amerika. Pertama karena lebih murah. Kedua karena mereka ternyata cukup kompeten mengerjakan berbagai pekerjaan elementer. Sebutlah misalnya perusahaan pembuat computer game di Silicon Valley-Amerika Serikat, ternyata mempekerjakan banyak programmer di negara lain. Mereka hanya terhubung melalui saluran komunikasi saja, tanpa perlu kehadiran fisik di kantor untuk bekerja.

Di sisi ini, kita melihat perusahaan yang masih saja “membakar uang”-nya untuk hal-hal yang kurang esensial akan terlindas kemajuan. Di Indonesia, kita bisa melihat masih banyak perusahaan yang tidak efisien. Misalnya mengharuskan seorang kepala cabang di berbagai kota untuk datang ke kantor pusat semata guna diberikan pengarahan (briefing) mengenai produk baru perusahaan. Padahal, andaikata perusahan itu mau mengadopsi inovasi, hal ini bisa diatasi melalui tele-conference misalnya.

Inovasi bagi perusahaan bukan hanya yang bergerak di bidang produksi, tapi juga jasa. Pentingnya menjaga hubungan baik dengan pelanggan membuat program Customer Retention Management (CRM) terus berkembang. Misalnya di sektor jasa perbankan, pelayanannya makin personal. Mungkin imbas dari naiknya tingkat perekonomian Indonesia dan pendapatan per kapita penduduknya, saya melihat layanan “privilege banking” tidak lagi semewah dulu. Konsumennya makin banyak. Kartu kredit yang dulu cuma ada dua jenis: silver dan gold, kini ditambah platinum bahkan titanium. Itu semua merupakan bentuk inovasi untuk memanjakan konsumen.

Perusahaan KBE akan membuat pegawainya selalu berkeinginan membuat inovasi. Dan tentu itu tidak gratis. Ada investasi yang musti ditanamkan, mulai dari teknologi hingga reward bagi sumber daya manusia berprestasi. Akan tetapi, semua itu mutlak diperlukan. Karena kita melihat fakta bahwa hanya organisasi yang berinovasi sajalah yang memiliki keberlangsungan hidup lama.

This entry was posted in Knowledge Management; Learning Intelligence and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *