Ide,Ide-Ide,Ide-Ide,Ide-Ide,Ide-dan Ide

raise5-1341351195-small-business-idea-3

Mudahkah mendapatkan ide?

Tidak.

Mudahkah mewujudkan ide?

Jauh lebih tidak mudah lagi.

Apa yang mudah terkait ide?

Mencurinya.

Benar. Satu-satunya yang mudah dari ide adalah mencurinya. Maka, hanya pencuri yang menganjurkan orang lain agar tidak menghargai ide. Hanya pencuri yang menganggap remeh ide. Hanya pencuri yang menyuruh orang lain agar tidak ragu mengemukakan idenya. Untuk apa? Ya untuk apa lagi kalau bukan untuk dicuri, lantas diwujudkannya sendiri.

Jangan pernah terprovokasi oleh orang yang berkata atau menulis seperti itu. Jaga ide Anda baik-baik. Utarakan hanya kepada mereka yang akan membantu mewujudkannya. Bila tidak, lebih baik diam dan catat sampai saatnya tepat. Lebih baik mati membawa ide ke liang kubur daripada membiarkannya dicuri orang lain dan sakit hati melihat orang lain mendapatkan kredit atasnya.

Saya sendiri merupakan orang yang memiliki banyak sekali ide. Dan semuanya saya simpan rapat sampai saat yang tepat untuk mewujudkannya. Kalau pun akhirnya saya utarakan kepada orang lain, orang ini saya anggap tepat untuk membantu mewujudkannya. Atau, minimal saya tahu ia tidak akan mencuri ide tersebut dan mewujudkannya tanpa saya. Bisa karena dua hal, ia tidak kompeten atau malah begitu terpercayanya.

Di Indonesia, plagiarisme sudah pada tingkat dewa keparahannya. Karya ilmiah termasuk skripsi saja dibajak dan dijiplak habis tanpa tedeng aling-aling. Sampai-sampai para motivator pun menganjurkan agar mempraktekkan prinsip ATM=Amati, Tiru, Modifikasi. Apa yang salah dari itu? Salah. Karena membuat kita jadi tidak menghargai orang lain. Kita terbiasa menjadi seorang peniru dan pengkhianat.

Berapa banyak orang yang bekerja di sebuah perusahaan –terutama yang skalanya kecil- lantas berhenti dan membuka usaha serupa dengan yang dibuat mantan bosnya? Berapa banyak bisnis sekedar “me too” alias “ikut-ikutan” saat sedang trend? Berapa banyak orang yang dengan enaknya memfotokopi apa pun atau men-copy paste artikel tanpa mencantumkan sumbernya dan tidak minta izin?

Karena parahnya tingkat kesadaran masyarakat itulah maka saya menyarankan agar jangan mengumbar ide sembarangan. Ide itu mahal, amat sangat mahal. Hargailah ide. Dan terlebih dari itu, hargailah diri sendiri.

Apalagi kalau Anda meminta ide dari orang lain. Saya pikir sudah sewajarnya Anda menghargai mereka. Bukan sekedar sikap, tapi juga dengan nilai uang. Sekarang, Anda berani membayar sepuluh juta untuk sebuah gadget. Tahukah berapa nilai ide pembuatan gadget itu? Sejuta kali lipatnya! Buktinya, nilai buku perusahaan berbasis ide terus-menerus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Bagi yang pernah bekerja di sebuah perusahaan besar, akan tahu bahwa sebuah ide itu mahal harganya. Saya mendengar dari sumber primer, bahwa Jakob Oetama pemilik Kelompok Kompas Gramedia memilih Agung Adiprasetyo sebagai CEO pengganti dirinya justru karena ide. Dan tahukah Anda? Tidak semua ide Agung terlaksana dengan baik, bahkan ada yang benar-benar cuma ide mentah saja. Tapi buat sang maestro legendaries dunia penerbitan dan pers Indonesia, it’s OK.

Agung bukanlah pengusaha. Dia profesional. Tapi, jiwa kewirausahaannya kental sekali. Dan sama seperti saya, dia juga berpendapat  bahwa pengusaha bukanlah profesi paling mulia seperti sering digembar-gemborkan oleh banyak pihak yang terkena “entrepreneurship euphoria”.

Apa sih ciri jiwa kewirausahaan? Keinginan mandiri, inovatif, memberi nilai tambah pada produk dan layanan untuk konsumen, serta ekspansif, itulah ciri-cirinya.

Dalam jiwa kewirausahaan ada aspek inovatif. Nah, di situlah ide memegang peranan penting.

Ini dibuktikan oleh dua peneliti kenamaan dari dua kampus terkemuka di Eropa yang melakukan observasi bersama. Mereka menekankan pentingnya ide mentah dalam inovasi. Mereka adalah Laura J. Kornish dari University of Colorado at Boulder-Leeds School of Business dan Karl T. Ulrich dari University of Pennsylvania-Operations and Information Management Department.

Dalam kertas kerja penelitian berjudul “The Importance of the Raw Ide in Innovation: Testing the Sow’s Ear Hypothesis” yang dipresentasikan pada 6 April 2012, keduanya mengekspolrasi betapa pentingnya kualitas ide mentah dalam menentukan sukses di inovasi. Tanpa ide bagus, peluang untuk sukses sangat kecil. Ini tertuang dalam adagium: “you can’t make a silk purse out of a sow’s ear” atau “kita tidak bisa bisa membuat dompet sutra keluar dari telinga penabur benih”. Kesuksesan penjualan suatu produk bergantung pada kualitas ide mentah paling awal, bukan semata ketersediaan sumber daya dan pendekatan proses kerja yang tepat, sebagaimana “hipotesis tangan emas Midas”. Ide mentah ini setelah diuji dengan teknik prediksi pasar yang ilmiah, terbukti menghasilkan produk yang sangat diterima pasar dan menghasilkan nilai tinggi dalam penjualan. Penelitian yang dilakukan di sebuah industri alat-alat rumah tangga yang cukup besar itu menunjukkan bahwa ada keterkaitan signifikan antara kualitas ide dan hasil akhirnya menggunakan ide yang benar-benar mentah dengan penghasilan dari pasar.

Maka, jelaslah betapa ide itu sangat penting. Hanya pencuri dan orang bodohlah yang tidak menghargai ide. Karena ide jelas dihasilkan dari otak kreatif yang langka. Dan itu adalah sebuah anugerah Tuhan yang luar biasa. Menghargai ide sama dengan menghargai manusia yang melontarkannya dan sekaligus juga menghargai Tuhan yang menganugerahkannya.

Catatan: Ada satu tulisan terkait di blog harian saya, silahkan klik judul berikut untuk membacanya: “Sulit & Mahalnya Ide

 

Foto: raise5.com

This entry was posted in Knowledge Management; Learning Intelligence and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *