Analisa Media Framing Sederhana atas Tempo dan Gatra dalam Pemberitaan Kunjungan Obama ke Indonesia

Dalam memilih media cetak jenis majalah, dua majalah ini secara subyektif dianggap mewakili karakter majalah berita mingguan Indonesia. Majalah Tempo dipilih karena secara usia merupakan majalah paling tua yang masih ada, meski sempat berhenti terbit beberapa kali. Demikian pula dengan Gatra. Majalah sejenis di pasaran sudah tidak ada yang menyamai level keduanya. Meski ada majalah Trust, namun dari segi oplah dan luasnya sirkulasi peredaran, Tempo dan Gatra tetap yang paling luas. Majalah berita lain seperti Forum Keadilan sudah lama tak terbit. Apalagi, sebagian awak Gatra adalah ‘alumni’ Tempo. Sehingga menarik membandingkan cara kedua majalah ini menurunkan laporan mengenai berita yang sama.

Dari tampilan luar, Tempo tampak lebih siap dengan sampul yang sudah digarap rapi, menampilkan gambar Obama yang diolah dari fotonya. Gambar ini khas karena mengenakan peci yang merupakan tutup kepala khas Indonesia. Yang unik, dasi Obama bercorak seperti pola yang lazim digunakan di kafiyeh –penutup kepala khas Timur Tengah- yaitu kotak-kotak hitam-putih. Hal lain yang menarik adalah corak di peci Obama bila diamati bergambar naga, hewan mitologis khas China. Satu simbolisasi yang cerdik dan multi-tafsir.

Gatra tampil dengan sampul biasa saja, yaitu foto Obama melambaikan tangan di depan dinding bercat merah-putih. Bisa ditebak -karena hampir semua media massa menggunakan juga foto di momentum ini- foto terpasang tersebut adalah foto Obama saat memberikan orasi di Universitas Indonesia, 10 November 2010. Foto tersebut nyaris digunakan begitu saja tanpa sentuhan apa pun. Dari segi tampilan sampul, jelas Tempo jauh lebih unggul daripada Gatra.

Judul headline yang digunakan hampir mirip, dengan Gatra tampaknya menunggu hingga “last minute” untuk menggunakan kalimat yang digunakan Obama di UI, yaitu “Pulang kampung nih!”. Sementara judul Tempo tampaknya lebih awal dipersiapkan dengan lebih sederhana, yaitu “Obama Pulang.”

Artikel Tempo yang jelas dipersiapkan lebih awal itu juga terlihat dari judul yang digunakan di halaman dalam, tempat artikel “Laporan Utama” berada. Judul itu adalah “24 Jam Lawatan Obama”. Padahal, faktanya Obama hanya berada di Indonesia selama 19 jam. Kalimat pertama setelah lead pun masih memakai kata pengandaian “Jika”: “Jka tak ada aral, Presiden Barack Obama akan tiba…” Jadwal terbit yang 8 November 2010 menyebabkan hal itu.

Sementara jadwal terbit Gatra “lebih menguntungkan”, yaitu 11 November. Karena itu jelas sekali Gatra menunggu hingga “the last minute” termasuk saat Obama berkunjung ke UI. Berita di Gatra menjadi lebih hangat dan actual daripada di Tempo.

Jumlah hal Laporan Utama sebanyak 10 halaman ditambah 1 halaman kolom dengan tema terkait menjadikan Gatra unggul dibandingkan Tempo yang hanya 5 halaman saja. Demikian pula dengan ilustrasi foto dimana Tempo menggunakan hanya 4 foto dengan semua foto Obama bukan foto di Indonesia –karena saat Tempo naik cetak Obama belum datang-, berbanding dengan 8 foto di Gatra dengan 5 foto Obama terbaru dari seri kunjungan Presiden A.S. itu ke Asia  -4 di Indonesia, 1 di India-, menjadikan Gatra lebih berwarna.  Ini masih ditambah 1,5 halaman grafik yang menggambarkan detail angka perekonomian A.S.-Indonesia dengan bagus.

Tentu saja, mengingat laporan Tempo dibuat sebelum kunjungan Obama, maka kedalamannya menjadi kurang. Tempo hanya menurunkan analisa terhadap situasi sebelum Obama datang ke Indonesia. Apa hasil yang dicapai selama berkunjung, hanya Gatra yang mampu menyajikan.

Apa yang dipaparkan di atas adalah laporan media atau media monitoring dengan pendekatan analisa wacana. Tidak semua unsur dalam analisa wacana dipergunakan karena justru pengamatan hanya akan memakai analisa pembingkaian media (Media Framing Analysis, selanjutnya disingkat MFA).  Patut dicatat, meski menggunakan MFA sebagai ‘pisau bedah’, namun keseluruhan tulisan hanya membahas secara sepintas saja, atau dengan kata lain MFA Sederhana. Karena kajian semacam ini bahkan bisa menjadi satu skripsi tersendiri apabila dibahas tuntas dan mendalam.

Dalam MFA, terdapat dua model kerangka yang populer dipergunakan. Kerangka pertama adalah model Pan dan Kosicki, kerangka kedua adalah model Gamson dan Modigliani. Tentu saja, semuanya dinamai menurut nama penciptanya.

Sebagaimana dituliskan oleh Alex Sobur (2001:175-182), MFA menurut Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki melalui tulisannya Framing Analysis: An Approach to News Discourse (1993) itu membagi perangkat pembingkaian menjadi empat struktur besar: sintaksis, skrip, tematik, dan retoris. Sintaksis diamati dari bagan berita, yaitu bagaimana wartawan menyusun aneka bahan menjadi susunan kisah berita. Skrip melihat bagaimana strategi bercerita atau bertutur yang dipakai wartawan dalam mengemasnya. Tematik berhubungan dengan cara wartawan mengungkapkan pandangannya. Retoris berhubungan dengan cara wartawan menekankan hal tertentu.

Sementara model yang dikembangkan William A. Gamson dan Andre Modigliani didasarkan pada pendekatan konstruksionis dengan melihat representasi media yang terdiri atas paket (package) interpretatif yang mengandung makna tertentu. Dimana dalam dua package ini terdapat core frame dan condensing symbols, dimana struktur kedua mengandung lagi dua sub-struktur yaitu framing devices dan reasoning devices.

Di sini saya memilih model pertama yaitu dari Pan dan Kosicki semata karena lebih mudah dipahami dan relatif lebih cepat membuatnya. Alasan ini sangat subyektif dan sama sekali tidak hendak menunjukkan bahwa salah satu metode lebih baik daripada yang lain. Dalam model ini, digunakan bagan sebagai berikut untuk memetakan pembingkaian media:

KERANGKA FRAMING PAN & KOSICKI

STRUKTUR

PERANGKAT FRAMING

UNIT YANG DIAMATI

SINTAKSIS

Cara wartawan menyusun berita

  1. Skema Berita Headline, lead, latar informasi, kutipan, sumber, pernyataan, penutup
SKRIP

Cara wartawan mengisahkan fakta

  2. Kelengkapan Berita 5 W + 1 H
TEMATIK

Cara wartawan menulis fakta

  3. Detail

4. Maksud kalimat,

hubungan

5. Nominalisasi antar

kalimat

6. Koherensi

7. Bentuk Kalimat

8. Kata Ganti

Paragraf, proposisi.
RETORIS

Cara wartawan menekankan fakta

  9. Leksikon

10. Grafis

11 .Metafor

12. Pengandaian

Kata, idiom, gambar/foto, grafik.

Tabel diambil dari Sobur (2001:176)

Pada dasarnya, MFA mengasumsikan bahwa saat menurunkan berita atau laporan apa pun, media massa selalu memiliki bingkai tertentu. Bingkai inilah yang coba diurai saat kita menganalisa berita yang ada. Karena dalam hal ini pembaca/pendengar/pemirsa hanya mendapati hasil jadi. Sementara bingkai yang digunakan ‘tertinggal di meja redaksi’. Ini sebenarnya wajar, sama seperti saat kita hendak memotret suatu peristiwa, tidak mungkin kita mampu merekam segala kejadian ke dalam kamera. Apa yang kita rekam adalah kejadian yang dipandang dari tempat kita berdiri. Dan jelas terbatas pada bingkai yang ada pada kamera kita. Berita pun begitu. Karena ruangan halaman di media cetak dan waktu tayang di media elektronik terbatas, maka perlu dilakukan pembingkaian. Dalam hal ini, tak bisa dipungkiri akan ada praduga (presumption) atau prasangka (prejudice). Hal ini menjadikan bingkai semata subyektif tergantung kebijakan redaksi media masing-masing.

Akan halnya dengan pemberitaan tentang Obama, setiap media massa di Indonesia menggunakan bingkai besar yang tampak serupa: “Arti penting kedatangan Obama bagi Indonesia.” Yang berbeda adalah sub-bingkai atau bingkai kecilnya. Media cetak yang memiliki keterbatasan ruangan halaman fisik dan juga medianya yang hanya dua dimensi mau tak mau membatasi diri pada sudut pandang tertentu. Sudut pandang ini membentuk bingkai.

Untuk Tempo, bingkai kecil yang dipakai adalah sejarah hubungan A.S.-Indonesia dari masa ke masa dan terutama dalam konteks kepentingan A.S. di Asia. Mengingat ada simbolisasi naga di peci Obama yang dijadikan ilustrasi sampul, ternyata di halaman Laporan Utama diturunkan tulisan satu halaman penuh tentang ini. Judulnya “Pesan untuk Sang Naga”, dengan jelas mengulas kepentingan A.S. terhadap China, negara pemilik simbol naga tersebut.

Sementara Gatra lebih memilih laporan model reportase daripada Tempo yang ulasan atau analisa. Perjalanan Obama selama di Indonesia direkam satu per satu dan dijabarkan, bak membuat laporan perjalanan. Walau begitu, ulasan atau analisa tetap tidak ditinggalkan, terutama saat menjabarkan mengenai hubungan perekonomian Indonesia-A.S. Karena itu, bingkai kecil Gatra adalah bagaimana hubungan antara Indonesia-A.S. akan terpengaruh oleh kunjungan Obama. Jadwal cetak dan edar Gatra yang lebih belakangan memungkinkan merekam apa saja kegiatan Obama di Indonesia, termasuk orasinya yang membesarkan hati di Universitas Indonesia. Dengan demikian, Gatra menjadi lebih akurat dalam hal memprediksi masa depan hubungan A.S.-Indonesia pasca kunjungan Obama dibandingkan Tempo yang terkesan masih meraba mengingat laporannya diturunkan sebelum kunjungan Obama.

Sebagai perbandingan, berikut ini saya buatkan tabel untuk membedakan laporan Tempo dan Gatra tentang kunjungan Obama ke Indonesia. Tabel ini menggunakan bagan dari model Pan dan Kosicki seperti yang telah dikutip di atas.

 No

Perangkat Framing

Tempo

Gatra

  1. Skema Berita Headline kurang menggigit. Lead kurang mengundang. Tidak ada kutipan langsung dari Obama selama di Indonesia. Sumber kebanyakan para pengamat dan pejabat pemerintah. Headline cukup menggigit, namun justru terasa basi karena banyak media lain terutama harian juga mengutipnya. Banyak kutipan langsung dari ucapan Obama selama di Indonesia. Lead cukup menggiring. Sumber variatif.
  2. Kelengkapan Berita Kurang. Karena hanya berupa analisis, tulisan laporan utama menjadi seperti opini belaka. Bagus. Karena memang menuangkan laporan pandangan mata. Unsur-unsur 5W+1H terpenuhi.
  3. Detail Tidak ada laporan pandangan mata. Analisis dikedepankan karena memang jadwal terbit tidak memungkinkan menunggu laporan lapangan. Terurai dalam bentuk laporan pandangan mata. Bagian analisis tampak sebagai pelengkap. Namun data dalam analisis justru lebih detail daripada Tempo.
  4. Maksud kalimat, hubungan Jelas dan mengalir. Pembaca dengan pengetahuan cukup mampu memahami dengan sekali baca. Bagus di laporan pandangan mata. Namun perlu waktu lebih lama mencerna analisa mengenai perekonomian.
  5. Nominalisasi antar kalimat Baik, efektif dan efisien. Bagus, efektif, efisien dan bertutur lancar.
  6. Koherensi Keterkaitan antar artikel cukup bagus, meski hanya berupa analisa. Bahkan ada koherensi antara simbol naga di ilustrasi sampul dengan artikel di bagian dalam. Antar artikel seperti berdiri sendiri. Bagian di mana dituliskan laporan pandangan mata tentang kunjungan Obama dengan analisa tentang hubungan perekonomian A.S.- Indonesia kurang melekat.
  7. Bentuk Kalimat Deskriptif. Naratif.
  8. Kata Ganti Redaksi memposisikan diri sebagai pengamat, orang ketiga jamak. Redaksi memposisikan diri sebagai orang ketiga jamak, namun tidak hanya sebagai pengamat, namun juga narrator.
  9. Leksikon Cukup variatif. Terdapat sejumlah diksi yang bagus. Beberapa kata sinonim dipergunakan bergantian. Rata-rata. Kemampuan penulis (redaktur/wartawan) dalam memilih perbendaharaan kata perlu ditambah.
10. Grafis Sampul penuh simbolisasi, bagus secara visual. Halaman laporan utama tidak ada yang berarti. Grafis dan foto kurang dan tidak bicara banyak.Sampul kurang sentuhan, kurang menarik. Halaman laporan utama cukup bagus, terutama dalam membuat data statistik penuh angka menjadi menarik.
11. Metafor Sang Naga untuk melambangkan China, satu halaman penuh artikel ulasan. Selain itu tidak ada. Tidak terlalu jelas. Hanya judul  di salah satu artikel laporan utama: “ Koboi Republik”, dan “Berkat si Kaya, Independen dan Teh Celup”. Selain itu tidak jelas sehingga dianggap tidak ada.
12. Pengandaian Makna kunjungan Obama dipertanyakan pada lead: sekedar “silaturahmi” atau ada agenda serius? Selain itu tidak jelas. Dalam artikel “Mengeruk Potensi  Investasi Amerika” banyak prediksi yang bisa disebut pengandaian terhadap masa depan.

Dengan dipaparkannya tabel di atas, tampak lebih jelas bahwa secara MFA, Gatra unggul di aspek keluasan dan variasi pemaparan fakta, namun Tempo yang menang pengalaman dari awak redaksinya lebih mampu memaparkan fakta dengan konsisten, taat asas dan kedalaman memadai dari fakta terbatas. Kesimpulan akhirnya, untuk dua edisi yang terbit bersamaan dan mengulas kunjungan kenegaraan Obama ke Indonesia, Gatra masih lebih bermanfaat bagi pembaca dengan liputan pandangan mata dan ulasan dari beragam sisi.

This entry was posted in Komunikasi & Media; Pencitraan & Merek and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *